Selasa, 08 April 2014

naskah khutbah tema surga di telapak kaki ibu



 Ungkapan di atas sangat populer sekali dan banyak beredar di pengajian, ceramah, dan tu­lisan yang menekankan keutamaan berbakti kepada kedua orang tua, terutama seorang ibu yang telah banyak berjasa besar dan melakukan pengorbanan yang luar biasa untuk anaknya.
Ungkapan ini semakin laris manis pada saat menyongsong hari ibu yang diperingati oleh sebagian kaum muslimin untuk mengenang jasa para ibunda. Namun, apakah ungkapan ini merupakan hadits Nabi?! Ataukah hanya kata mutiara saja?! Apakah kemasyhurannya adalah jaminan bahwa itu adalah ucapan Nabi?!
Berikut ini kajian singkat tentang hadits pembahasan. Semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi kita semua.

Teks Hadits: “Surga di bawah telapak kaki ibu.
” MAUDHU’. Diriwayatkan oleh Abu Bakar asy­ Syafi’i dalam ar-Ruba’iyyat 2/25/1, Abu Syaikh dalam al-Fawaid no. 357 dalam at-Tarikh hlm. 253, ats­Tsa’labi dalam Tafsir­nya 3/53/1, al­Qudha’i dalam Musnad Syihab 2/2/1, ad­Dulabi dalam al- Kuna 2/138 dari Manshur bin Muhajir dari Abu Nadhr al­ Abbar dari Anas secara marfu’.
Sanad ini parah, karena Manshur dan Abu Nadhr tidak dikenal sebagaimana kata Ibnu Thahir, seperti dinukil oleh al­ Munawi dalam Faidhul Qadir seraya mengatakan, “Hadits ini mungkar.”
Hadits ini memiliki jalur lain, diriwayatkan Ibnu Adi dalam al-Kamil 1/325 dan al­ Uqaili dalam adh-Dhu’afa' dari Musa bin Muhammad bin Atha': Menceritakan kepada kami Abu Ma­lih: Menceritakan kepada kami Maimun dari Ibnu Abbas d secara marfu’ (sampai kepada Nabi).
Sanad ini adalah maudhu’, sebab Musa bin Atha' adalah seorang pendusta. Al­Uqaili ber­ kata, “Hadits ini mungkar.”

Pengganti yang shahih
Sebagai ganti hadits ini adalah hadits Mu’awiyah bin Jahimah a, bahwasanya beliau datang kepada Rasulullah  seraya berkata:   “Wahai Rasulullah, aku hendak berperang, kini aku datang untuk meminta pendapat engkau.” Rasulullah  menjawab, “Apakah engkau mem- punyai ibu?” Jawabnya, “Ya.” Lalu Rasulullah n bersabda, “Berbuat baiklah kepadanya. Sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.” Diriwayatkan Nasa’i (2/54) dan ath­Thabarani (2/225), dan sanadnya?hasan—insya Allah. Al­ Hakim menshahihkannya (4/151) dan disetujui oleh adz­Dzahabi dan al­Mundziri (3/214).

2 Faedah: Maksud “Surga di bawah telapak kaki ibu” adalah bahwa tawadhu’ (rendah hati) kepada seorang ibu merupakan sebab ma­ suknya seorang ke surga. Demikian dikatakan oleh az­Zarkasyi dan as­Sakhawi.

3 Yang Penting Maknanya benar Kebenaran makna dan isi suatu ungkapan tidak serta­merta menjadi alasan bolehnya menisbahkan ungkapan tersebut kepada Nabi . Sebab, tidak boleh menisbahkan ungkapan kepada Rasulullah n kecuali yang benar­benar beliau sabdakan. Al­Hafizh Abul Hajjaj al­Mizzi  berkata, “Tidak boleh seorang pun menis­ bahkan ungkapan yang dianggapnya baik ke­ pada Rasulullah n sekalipun maknanya benar, karena semua yang dikatakan oleh Rasulullah n adalah benar, tetapi tidak semua yang benar itu mesti dikatakan oleh Rasulullah .”

4 Syaikh al­Albani juga menilai bahwa terma­suk kebodohan anggapan bahwa suatu hadits apabila benar maknanya berarti Rasul n pasti mengucapkannya. Beliau  berkata, “Sung­ guh ini adalah kejahilan yang amat parah, kare­ na betapa banyak hadits­hadits yang dilemah­ kan oleh para ulama ahli hadits padahal maknanya shahih. Terlalu banyak kalau saya harus menampilkan contoh­contohnya, cu kup ­ lah apa yang terdapat dalam kitab karyaku ini. Seandainya penshahihan hadits dibuka karena melihat maknanya yang shahih tanpa meli­hat kepada sanadnya, niscaya berapa banyak kebatilan akan masuk kepada syari’at dan be­ tapa banyak manusia yang akan menyandar­ kan kepada Nabi  ucapan yang tidak beliau katakan, dengan alasan tersebut, kemudian me­ reka mengambil tempat duduknya di neraka.”

5 Populer bukan jaminan shahih Bila ada yang mengatakan: Namun, hadits ini 'kan sudah masyhur dan populer sekali di masyarakat, apakah hal itu tidak cukup menun­jukkan bahwa dia adalah hadits shahih?! Kami? katakan: Suatu hadits yang masyhur (populer) dan laris­manis di kalangan masyara­ kat sama sekali bukanlah jaminan bahwa hadits tersebut shahih. Berapa banyak hadits yang masyhur di masyarakat, tetapi para ulama ahli hadits menghukuminya sebagai hadits lemah, palsu, bahkan tidak ada asalnya. Al­Hafizh Ibnu Hajar  berkata, “Hadits masyhur bisa juga diartikan dengan suatu hadits yang ba­ nyak beredar di lidah masyarakat umum, maka hal ini mencakup hadits yang memiliki satu sanad atau lebih, bahkan hadits yang tidak me­ miliki sanad sama sekali.”

6 Syaikhul Islam  berkata, “Seandainya sebagian masyarakat umum yang mendengar hadits dari tukang cerita dan aktivis dakwah, atau dia membaca hadits, yang baginya adalah populer, maka hal itu sama sekali bukanlah menjadi patokan. Betapa banyak hadits­hadits yang populer di masyarakat umum, bahkan di kalangan para ahli fiqih, kaum sufi, ahli filsafat, dan sebagainya, lalu menurut pandangan ahli hadits ternyata hadits tersebut adalah tidak ada asalnya, dan mereka menegaskan hadits terse­ but palsu.”

7 ibu, alangkah besarnya jasamu!! Sesungguhnya kedudukan berbuat baik ke­ pada orang tua dalam Islam sangatlah tinggi dan agung.

8 Betapa banyak Allah Ta’ala mengiring­ kan antara hak­Nya dan hak orang tua, seperti firman Allah Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hen- daklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu de- ngan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara ke duanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah men- didik aku waktu kecil.” (QS. al­Isrâ' [17]: 23–24) Berbuat baik kepada ibu bapak sama­sama ditekankan dalam Islam, namun yang lebih ditekankan lagi ialah berbuat baik kepada ibu karena besarnya jasa dan pengorbanan seorang ibu daripada ayah. Allah  berfirman:  Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kem- balimu. (QS. Luqman [31]: 14) Dalam ayat ini Allah  menyebutkan tiga jasa ibu: tugas sebagai ibu, mengandung, dan me­ nyapih. Ayat ini diperkuat oleh hadits berikut:  Dari Abu Hurairah  berkata, “Datang seorang lelaki kepada Rasulullah  seraya berkata, ‘Wa- hai Rasulullah, siapakah orang yang paling ber- hak untuk aku berbuat baik kepadanya?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa lagi?’ Nabi  menjawab, ‘Ibumu.’ Dia bertanya lagi, ‘Siapa lagi?’ Nabi  menjawab, ‘Ibumu.’ Dia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari: 5971 dan Muslim: 2548) Dalam hadits ini, Nabi n menyebut ibu sebanyak tiga kali, menunjukkan bahwa ibu adalah wanita yang paling berjasa bagi anak. Maka semestinya seorang anak untuk berbuat baik kepadanya lebih dari yang lainnya. Na­ mun sangat disayangkan sekali, pada zaman kita sekarang banyak sekali anak­anak yang tidak berbakti kepada ibunya. Lantas, seperti inikah balasan orang yang telah berjasa besar kepadamu?!!

9 Saudaraku, seorang ibu adalah wanita yang sangat mulia dan pahlawan bagi anak, dia telah melakukan pengorbanan yang luar biasa dan berjasa dengan jasa yang tidak bisa dibayar dengan harta, dialah yang mengandung be­ berapa bulan lamanya dengan penuh kesulitan dan penderitaan, dialah yang melahirkan de­ ngan taruhan nyawa, dialah yang menyusui, merawat, mendidik, mengasihi hingga tumbuh dewasa. Ingatlah bahwa kebaikan apa pun yang telah engkau berikan kepada ibu, maka itu belum sesuai dengan jasa mereka sedikit pun. Dikisahkan bahwa ada seorang berkata kepada sahabat Abdullah bin Umar , “Saya telah menggendong ibuku di atas punggungku dari Khurasan sampai selesai menunaikan ibadah manasik haji, apakah saya telah membalas budi ibu saya?!” Ibnu Umar , “Tidak seimbang sama sekali meskipun (hanya) dengan sekali penderitaannya saat melahirkan.”

10 Akhirnya, kita berdo’a kepada Allah  agar menjadikan kita semua anak­ anak yang berbakti kepada orang tua kita, khususnya kepada ibu kita, baik ketika mereka masih hidup di du­ nia atau sudah meninggal dunia. Âmîn.

Tempat Proklamasi Pertama Kali Dibacakan di Cirebon di Tugu Kejaksan



Sekilas, bagi anda yang pertama kali berkunjung ke kota Cirebon dan apabila melewati tugu tersebut ada sesuatu yang tampak aneh. Betapa tidak terlihat aneh, ada sebuah tugu pensil yang tingginya tak kurang dari enam meter berdiri di tengah-tengah simpang jalan protokol yang merupakan arus padat lalu lintas.

Tapi, siapa yang menyangka kalau di tugu itu puluhan tahun silam pernah menjadi tempat lahir pertama kali Republik ini berdiri.


Saksi Republik Ini Berdiri

Tak banyak yang tahu, bahwa tugu berbentuk pensil yang terletak di alun-alun kejaksan Kota Cirebon dan setiap hari dilalui itu adalah sebuah monumen amat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tugu itu dibuat untuk menandai bahwa proklamasi kemerdekaan pernah dikumandangkan di tempat itu, dua hari lebih awal dari proklamasi yang dikumandangkan oleh Sukarno dan Hatta di Jalan Pegangsaan Timur No 56.

68 tahun yang lalu, pada tanggal 15 Agustus 1945 teks proklamasi dibacakan di tempat itu. Sejak tahun 2010 silam, kami telah menelusuri ke pusat arsip daerah dan mendatangi beberapa orang saksi yang menyaksikan pembacaan proklamasi itu langsung.  Namun sayang, teks tersebut hilang dan tak diketahui keberadaannya sampai sekarang.

Suganda (82) -saat ini beliau sudah tiada-  salah seorang saksi hidup yang menghadiri proklamasi tersebut menuturkan bahwa ketika itu jumlah orang yang hadir sekitar 150 sampai 200 orang.


“Orang yang membacakan teks itu kepala Rumah Sakit Kesambi -nama Rumah Sakit Gunung Jati di jaman pra kemerdekaan-, (alm) Dokter Sudarsono -ayah Dr Juwono Sudarsono- namanya.” ujarnya kepada SetaraNews yang kami wawancarai di bulan Agustus tahun 2010 silam.

“Saya ketika itu hadir sebagai tentara pelajar. Saat itu, saya mendengar kabar dari senior bahwa Jepang telah kalah perang. Saat itu banyak warga yang keluar rumah dan berkumpul di jalanan sepanjang palimanan (rumahnya) menuju ke Kota (Cirebon). Merinding kalau ingat masa itu. Rakyat terlihat gembira sekaligus gelisah. Kelompok pemuda takut setelah Jepang kalah Belanda akan datang lagi.” Terangnya.

Hasil Gerakan Bawah Tanah

Menurut buku yang ditulis oleh Rudolf Mrazek berjudul Sjahrir, Bung Sjahrir mengatakan teks proklamasinya diketik sepanjang 300 kata. Teks itu bukan berarti anti-Jepang atau anti-Belanda. ”Pada dasarnya menggambarkan penderitaan rakyat di bawah pemerintahan Jepang dan rakyat Indonesia tidak mau diserahkan ke tangan pemerintahan kolonial lain,” kata Sjahrir seperti ditulis dalam buku Mrazek. Sjahrir pun mengatakan kehilangan teks proklamasi yang disimpannya.

Selain itu, menurut (alm) Des Alwi, anak angkat Sjahrir. Teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono adalah hasil karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya.

Penyusunan teks proklamasi ini, antara lain, melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dikerjakan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus. Asrama Prapatan kala itu sering dijadikan tempat nongkrong para anggota gerakan bawah tanah.
Des hanya mengingat sebaris teks proklamasi versi kelompok gerakan bawah tanah: ”Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga.”

Selain mempersiapkan proklamasi, Sjahrir dengan semangat tinggi mengerahkan massa menyebarkan ”virus” proklamasi. Stasiun Gambir dijadikan arena untuk berdemonstrasi. Stasiun radio dan kantor polisi militer pun sempat akan diduduki. Kala itu, Des dan sekelompok mahasiswa bergerak hendak membajak stasiun radio Hoosoo Kyoku di Gambir agar teks proklamasi tersebar. Usaha tersebut gagal karena Kenpeitai menjaga rapat stasiun radio tersebut.

Tapi simpul-simpul gerakan bawah tanah terus bergerak cepat, menderu-deru dari satu kota ke kota lain, menyampaikan pesan Sjahrir. Dan keinginan Sjahrir agar proklamasi Indonesia segera didengungkan itu pun sampai di Cirebon.

Cerita Rakyat Jawa Barat




Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.

 Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi.

Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya. 

Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.

Kemana setelah SMP, Data SMA/SMK di Kota Cirebon


SMA Negeri 1 Kota Cirebon
Alamat : Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 81
Web resmi : http://smansacirebon.sch.id/
NPSN : 20222364
NSS : 301026301004
Telp :
Akses Angkot : D2, D3, D4, D5, D6, D7, D8, GP.
SMA Negeri 2 Kota Cirebon
Alamat : Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No. 1
Web resmi : http://sma.sma2-cirebon.sch.id/
NPSN : 20222365
NSS : 301026303404
Telp :
Akses Angkot : D5, D6, D7, D8, GP
SMA Negeri 3 Kota Cirebon
Alamat : Jl. Ciremai Raya No.63 Perumnas
NPSN : 20222366
NSS : 301026302201
Web resmi : -
Telp :
Akses Angkot : D1, D5, D6
SMA Negeri 4 Kota Cirebon
Alamat : Jl. Perjuangan No. 1
NPSN : 20222367NSS : 301026303406
Web resmi : http://sman4crb.indosatschool.com/
Telp :
Akses Angkot : D2, D3, D4, D7
SMA Negeri 5 Kota Cirebon
Alamat : Jl. Perjuangan Majasem
NPSN : 20222384
NSS : 301026303406
Web resmi : http://www.sman5cirebon.sch.id
Telp : (0231) 480537
Akses Angkot : D2, D3
SMA Negeri 6 Kota Cirebon
Alamat : Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 79
NPSN : 20222311
NSS : 301026301005
Web resmi : http://sman6-kotacirebon.sch.id/
Telp :
Akses Angkot : D2, D3, D4, D5, D6, D7, D8, GP
SMA Negeri 7 Kota Cirebon
Alamat : Jl. Perjuangan
NPSN : 20222149
NSS : 301026303407
Web resmi :http://sman7crb.sch.id
Telp :
Akses Angkot : D2, D3, D4, D7
SMA Negeri 8 Kota Cirebon
Alamat : Jl.Pronggol Pengambiran
NPSN : 20222166
NSS : 301026304582
Web resmi : -
Telp :
Akses Angkot : D1, D5, D7,GC
SMA Negeri 9 Kota Cirebon
Alamat : Jl.Pramuka Kebon Pelok
NPSN : 20222167
NSS : 301026302202
Web resmi : -
Telp :
Akses Angkot : D2, D3, D4, D5, D6, D7, D8, GP

Sumber Pendukung : Dinas Pendidikan Kota Cirebon